Wawancara ini
berkaitan dengan tiga mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan
jenjang atas di luar negeri, tepatnya di Mesir, Jordan dan Yaman. Dalam
wawancara ini saya ingin mengetahui lebih dalam bagaimana mereka bertiga yakni
saudara Fakhri, saudara Haikal, dan saudara Najib menjalani kesehariannya di
negara masing-masing.
Menariknya
wawancara ini yaitu memfokuskan ke dalam tiga aspek pembahasan yang berbeda,
yaitu saudara Fakhri yang sekarang menempuh studi di University of Jordan fokus
kepada kehidupan sosial dan budaya di Jordan. Saudara Haikal yang menempuh
studi di Universitas Al-Azhar Mesir berfokus ke dalam kehidupan akademik di
kampus. Yang terakhir saudara Najib yang menempuh studi di University of Science
& Technology berfokus dalam kehidupan sehari-hari dan finansial di Yaman.
1. Mengapa Anda memilih kuliah di luar negeri dan bagaimana
proses Anda sampai bisa berkuliah di sana?
Fakhri (Jordan)
"Nomor
satu, ya disuruh orang tua terus terang gara-gara opsi terakhir. Kemudian kan
kita keluar dari Al Irsyad ya terkenal bahasa Arabnya, ya maunya orang tua gua
biar kepake begitu. Kemudian bagaimana prosesnya kita lewat moderator namanya
KDJ, kuliah di Jordan. Nah disitu salah satu link yang membuat kita bisa
belajar di Jordan sampai sekarang," ujar Fakhri.
Haikal (Mesir)
“Untuk
jawaban soal pertama, kenapa pilih Al-Azhar Mesir? Karena pertama, dari info
yang gua dapat, Al-Azhar Mesir itu adalah tempat yang sangat mendukung untuk
belajar dan memperdalam ilmu agama. Karena secara kualitas, Al-Azhar Mesir itu
tidak perlu diragukan lagi dari segi pengajarnya, yang tentunya banyak masyaih
dan asatidz besar dan halakoh-halakoh ilmiyah itu banyak banget. Dan juga
kualitas mahasiswanya itu sudah tidak perlu diragukan lagi. Sudah terbukti
melahirkan banyak-banyak bakat-bakat ilmu agama dan ustadz-ustadz besar di
Indonesia seperti Ustadz Abdul Somad, Ustadz Profesor Qureshi Habs, dan
lain-lain."
"Kedua
ada faktor lingkungan juga. Lingkungan di sini sangat mendukung. Ya tadi secara
masyaih dan halakoh ilmiyah itu ada di mana-mana. Dan terbuka atau beragam
untuk setiap bidang ilmu, setiap paham, setiap mazhab dalam fikih itu
ada."
"Terus sebagai alasan yang kedua itu
passion. Bisa dibilang bukan passion sih. Sebagai tanggung jawab gue karena
sudah memilih jalur ilmu agama. Karena ketika gue sudah milih masuk pesantren,
disitu gue tahu gue harus tanggung jawab atas pilihan yang sudah gue buat.
Nggak boleh setengah-setengah. Jadi semenjak gue masuk pesantren, gue sudah
memfokuskan diri gue untuk menentukan jalur pendidikan ke jalur pendidikan
agama."
"Terus mesti dijawabkan soal pertama,
bagaimana perjalanan sampai bisa jadi sampai berkuliah di sini? Sebenarnya itu
waktu daftar di Mesir ini bukan opsi pertama atau minat pertama. Tapi ya
qadarullah, akhirnya gue bisa berkesempatan untuk berkuliah di sini. Dulu waktu
daftar itu bareng teman, diajak teman. Tentunya persiapannya waktu itu karena
mendadak. Jadi nggak begitu maksimal. Tapi alhamdulillah karena sudah ada
dasar-dasar yang gue pelajarin selama waktu di pesantren dulu. Dan tesnya itu
hanya mengulang pelajaran waktu pesantren. Jadi alhamdulillah mudah.
Alhamdulillah buat gue pribadi itu nggak terlalu sulit."
“Kemudian
lulus dan harus mengikuti Darul Lughah atau kelas persiapan bahasa selama
kurang lebih 4-5 bulan sambil menunggu visa turun. Waktu itu persiapan
bahasanya itu di Indonesia via zoom. Langsung dari dokter-dokter dari Mesir
yang ngajar, dari Sabtu sampai Jumat. Habis itu visa turun, langsung selang
seminggu langsung persiapan dan langsung berangkat ke Mesir. Sampai di sini
baru mengurus pendaftaran dan lain-lain. Baru bisa mengikuti kuliah dan
ujian," ujar Haikal.
2. Apa tantangan terbesar yang Anda hadapi sebagai mahasiswa
Indonesia di luar negeri
Fakhri
(Jordan)
“Nomor
dua, tantangan mungkin itu subjektif ya. Kalau bagi gua sendiri lebih ke
bahasa. Walaupun kita udah bisa bahasa Arab, ternyata masih luas itu. Kita ini
cuma bisa bahasa fush'ah. Sedangkan yang orang Jordan pakai disini itu amiyah.
Jadi agak kesulitan di bahasa."
“Kemudian
kultur budayanya juga masih agak shock berat ya. Yang dimana, contoh wudhu lah.
Wudhu kita biasanya di tempat wudhu, kalau di sini mungkin di wastafel. Jadi
harus agak ngangkat kakinya gitu. Dan satu lagi di makanan. Jadi di sini
misalnya manis-manis banget, asin-asin banget, gak ada kayak gurih gak ada.
Mungkin ada di beberapa restoran, itu pun restoran India, jadi bukan asli
Jordan."
“Oh iya sama satu lagi di keuangan ya, soalnya disini rupiahnya satu dinar 23, 24 ribu. Misalnya lagi musim dingin 24 ribu, musim panas mungkin turun 20 ribu, jadi harus manage uang dengan baik. Meskipun kita di mata kita kayak wah murah nih satu jod, padahal 23 ribu. Jadi lebih memanage keuangan itu agak bagi gua tantangan lah," ujar Fakhri.
Haikal (Mesir)
“Sebenarnya
tantangan terbesar mahasiswa Indonesia di luar negeri bagian manapun tentunya
itu pasti faktor bahasa ya. Walaupun di Indonesia kita udah belajar bahasa yang
akan dipakai di negeri tersebut, mungkin dalam prakteknya akan berbeda
gitu."
“Seperti
contohnya, di Indonesia gue udah belajar bahasa Arab selama 6 sampai 7 tahun.
Tapi ternyata prakteknya di sini itu beda. Nggak sesimpel yang gue pelajari
dulu. Ternyata di sini yang dipakai sehari-hari oleh orang keluarga lokal itu
bukan bahasa Arab yang gue pelajari dulu, bukan bahasa Arab Fushah, tapi bahasa
Arab Amiyah. Sehingga harus ada penyesuaian lagi dan itu lumayan menjadi
tantangannya."
“Dan
di kuliah juga terkadang dosen dan pengajarnya itu mengajar dengan bahasa yang
campur. Bahasa campur itu maksudnya bahasa Arabnya Fushah campur Amiyah, nggak
100% Fushah. Bahkan kadang ada yang lebih banyak Amiyahnya. Tapi mungkin karena
dia tahu banyak wafidin atau bukan warga lokal yang ada di kelas dia, jadi para
dosen dan masyarakat tersebut menyesuaikan jadi pakai memperbanyak menggunakan
bahasa Arab Fushah. Biar lebih dipahami dan lebih mudah dipahami."
“Juga
ada keberagaman ras ya. Ini adalah tantangan kedua ya. Karena di Mesir ini
bukan satu atau dua negara aja yang datang ke sini, tapi dari berbagai penjuru
dunia gitu. Bahkan dari Asia Tenggara sendiri, bukan Indonesia aja, ada dari
Malaysia dan Thailand juga banyak. Dari daerah Afrika seperti Sudan dan Somalia
dan lain-lain, itu juga ada banyak mahasiswa yang datang ke sini. Bahkan dari
Uzbekistan, dari Afghanistan, dari India, bahkan dari Eropa juga ada. Dari
Maroko, dari Saudi itu juga ada yang datang ke sini. Nah, itu jadi, bukan
tantangan ya, itu jadi keunikan di sini. Jadi kita juga bisa, kita bukan cuma
belajar mengenal satu-dua budaya, tapi kita juga bisa kenal banyak tipikal
orang gitu, dari berbagai macam negara."
“Terus
ada faktor cuaca juga. Sebenarnya ini tidak terlalu menjadi tantangan besar ya,
walaupun cuaca di sini sangat berbeda gitu. Kalau di Indonesia kan cuma hujan
dan panas aja gitu, hujan dan kemarau. Tapi di sini ada musim dingin dan musim
panas, yang kalau dingin-dingin banget, kalau panas-panas banget. Nah, itu jadi
pengalaman baru buat gue," ujar Haikal.
3. Bagaimana pengalaman Anda beradaptasi dengan budaya dan
sistem pendidikan di negara tersebut?
Fakhri (Jordan)
"Nomor
tiga, kalau ke sistem pendidikan itu disini lebih ke average ya. Jadi rata-rata
KKM itu gak tentu, bukan 75, bukan. Jadi ditentuinya dari rata-rata kelas,
misalnya rata-rata kelasnya tinggi berarti KKM-nya tinggi gitu. Contoh misalnya
dari 10 orang nilainya: (8,8,9) Berarti rata-rata kan 8, berarti KKM-nya 8
gitu. Misalnya rata-rata kelasnya itu agak kurang bisa gitu berarti
rata-ratanya rendah. Itu di sistem pendidikannya gitu. Kayaknya tetap masih
ada, pas dirata-ratain, cuman bedanya minimal nilai KKM-nya itu bukan dari
dosennya ngasih, tapi dari rata-rata kelasnya."
“Kalau budaya,
gue gak ngerti ya. Apa ibadah ini masuk budaya atau enggak ya. Soalnya di sini,
kalau di peribadahannya, kayak sholat gitu, santai gitu. Jadi empat madzhab ini
kepake semua. Ada yang sholat sedekap, ada yang enggak disedekap."
“Terus ada
yang di antara dua sujud, cuman rabbighfirli, rabbighfirli, langsung sujud.
Jadi cepet. Terus gak mempermasalahkan soalnya di sini menghormati setiap
perbedaan madzhab. Gue gak tau itu budaya atau enggak. Soalnya di sini santai.
Lu mau wudhu, terus diusap, kakinya, kan kita biasanya pakai kaos kaki, terus
biasanya diusap atau lu mau lepas juga enjoy sih. Jadi misalnya gue lihat sih,
itu sih lebih toleran lah."
“Oh iya,
budaya di sini biasanya toko bukanya mepet dzuhur. Karena di sini pagi ini
orang-orang orang Jordan kah? Atau orang kita ya? Kalau pagi ga ada kegiatan.
Ya susah lah, maksudnya ya bener-bener jarang misalnya toko 24 jam. Habis itu
acara di pagi hari itu jarang. Gara-gara budaya sini di pagi hari ya tidur.
Entah pokoknya bener-bener ini lah. Kayak kota mati lah kalau biasanya di pagi
hari."
“Kita harus
beradaptasi ketika musim dingin. Gue lupa musim dingin nih harus lebih prepare,
harus lebih ya banyak gerak lah, soalnya misalnya diem udah kedinginan. Itu sih
musim dingin, sama musim dingin, soalnya kan kita maba gitu kan ya, terutama
subuh begitu, bisa bangun subuh udah kayak, asli susah banget setannya gede
banget," ujar Fakhri.
![]() |
foto bersama relawan Indonesia Jordan |
Haikal (Mesir)
“Seperti yang
udah gue bilang tadi ya, di jawaban nomor dua itu, seperti yang udah gue bilang
tadi, disini bukan cuma orang dari satu dua negara aja gitu, banyak budaya,
banyak keberagaman disini. Jadi ya, kita harus beradaptasi bukan dengan satu
dua tipikal orang, tapi banyak orang gitu. Tapi itu bukan tantangan yang sulit
ya."
“Sebagai
pengalaman, tetangga gue di rumah disini, di Mesir, itu adalah orang
Uzbekistan, umurnya mungkin seumuran atau di bawah gue. Nah dia itu ternyata
belum bisa bahasa Arab. Jadi dia masih belajar bahasa Arab, kayak gue juga
masih belajar bahasa Arab. Jadi ketika gue ngobrol sama dia, itu bukan hal yang
mudah gitu, karena gue harus mempersederhana bahasa Arab, sesederhana mungkin
agar dia paham, dan dia juga harus menyederhanakan bahasa yang dia gunakan biar
gue paham juga. Karena level bahasa Arabnya belum setinggi orang-orang Arab
pada umumnya gitu. Karena dia juga masih baru mungkin, baru belajar bahasa
Arab. Jadi sebagai pengalaman beradaptasi dengan budaya yang beragam
disini," ujar Haikal.
4. Apa perbedaan paling mencolok antara kehidupan mahasiswa di
luar negeri dan di Indonesia menurut Anda?
Fakhri (Jordan)
“Kalau
perbedaan mungkin di ini ya, gue yakin dimasak-memasak. Kalau orang di Indo,
gue jamin jarang lah masak walaupun sekali masak tapi jarang masak. Keseringan
beli mungkin gitu. Tapi kalau kita lebih ke, ya setiap personal mungkin harus
bisa masak gegara, ya tau lah ekonomi gitu. Rata-rata di sini bisa masak gegara
bahan-bahan itu lebih murah ketimbang bisa beli langsung jadi di toko Jordan.
Soalnya mahal gitu, paling dua jod, dua setengah jod gitu. Jadi lebih, mungkin
itu ya perbedaannya mungkin di situ ya. Bisa masak atau enggaknya gitu
sih," ujar Fakhri.
Haikal (Mesir)
“Mahasiswa
di sini itu menurut gua mereka gak mencukupkan diri dengan belajar di
kelas-kelas di bangku kuliah aja gitu. Mereka masih mengusahakan untuk terus
memperdalam untuk belajar di luar lingkungan kuliah."
“Contohnya
di Masjid-Masjid mereka ikut halaqah-halaqah para masyayikh gitu. Bukan satu atau
dua masyayikh aja, mungkin mereka bisa ikut empat sampai lima halako ilmu
setiap minggunya gitu. Dari berbagai macam bidang ilmu agama. Ya itu sih yang
beda," ujar Haikal.
5. Apa yang paling Anda rindukan dari Indonesia selama tinggal
di luar negeri?
Fakhri (Jordan)
“Pastinya
teman kerabat. Ya keluarga pasti, kemudian disamping itu cita rasa makanan sih.
Gue mau martabak gue, pokoknya makanan Indo lah gue kangen," ujar Fakhri.
Haikal (Mesir)
“Yang gue
kangenin dari Indonesia itu, sebenarnya satu sih, hujannya. Di sini sama sekali
gak ada hujan. Selama gue di sini itu, lima bulan di sini, itu cuma ada dua
kali hujan dan itu juga gak deres, gak sederes hujan yang ada di Indonesia.
Kangen aja ngerasain hujan. Itu sih," ujar Haikal.
Nomor enam hingga delapan berfokus ke akademik yang ada di Al-Azhar Mesir.
6. Bagaimana metode pengajaran di kampus Anda? Apakah lebih
menekankan teori atau praktik?
Haikal (Mesir)
“Sebenarnya
kalau secara zahirnya, pembelajaran di sini itu yang gue dapet sejauh ini, di
bangku kuliah itu lebih ke teori. Tapi di teori ini misalkan di pelajaran
tauhid, itu kita juga membahas praktik-praktik yang sudah dilakukan oleh para
ulama terdahulu. Contohnya di tauhid bagaimana dulu para ulama kita berdebat
dengan para atheis pada zamannya dulu untuk mempertahankan agama kita,
mempertahankan akidah islamiah kita. Itu dijadikan teori sambil diberikan
contoh bagaimana ulama-ulama terdahulu mempraktikannya gitu,” ujar Haikal.
Gedung Fakultas Syariah Al-Azhar Mesir
7. Bagaimana Anda mengelola tekanan akademik dan tugas di
lingkungan perkuliahan yang berbeda?
Haikal (Mesir)
“Sebenarnya
tekanan akademik di sini itu menurut gue gak terlalu berat, karena mungkin udah
ada dasar-dasar yang gue pelajarin dulu kali ya di pesantren. Jadi di sini
sejauh ini pas di tingkat satu awal-awal ini, pelajaran-pelajarannya itu masih
mempelajari dasar-dasar. Jadi yang udah gue pelajari di pondok masih keluar di
kuliah ini, walaupun ini lebih dalam. Tapi karena gue udah punya dasarnya
sesuai yang gue pelajari di pondok, jadi itu lebih mempermudah gue buat
mengikuti kelas perkuliahan di sini.”
“Mungkin nanti
ke tingkat dua atau tingkat tiga itu mungkin baru banyak materi-materi
perkuliahan atau mata kuliah baru yang sebelumnya belum gue temuin di santren.
Jadi mungkin pendekatan dan adaptasinya itu mungkin akan lebih berbeda ya. Tapi
sejauh ini so far belum ada tekanan yang terlalu berat, masih bisa gue handle,”
ujar Haikal.
8. Apakah dosen atau pembimbing terbuka dan mudah diakses oleh mahasiswa?
Haikal (Mesir)
“Dosen di sini
itu sangat mudah diakses. Akses ke dosen itu dan para masyayikh itu
sangat-sangat mudah dan gampang. Baik yang di dalam kampus seperti para dosen
yang mengajar di perkuliahan, ataupun para masyayikh yang mengajar di halaqoh-halako
di luar kuliah gitu. Seperti di masjid-masjid, di masjid Al-Azhar contohnya.
Itu sangat-sangat gampang.”
“Dan kalau
kita bertanya itu juga insya Allah akan dijawab dengan baik oleh para masyayikh
insya Allah. Juga karena banyaknya halako-halaqoh ya, itu makin mempermudah
kita untuk memperdalam ilmu yang kita dapat di kuliah gitu. Karena menurut gue
juga ilmu yang kita pelajari itu bukan sekedar untuk ujian aja gitu. Kita gak
cukup untuk mempelajari itu di dalam kuliah. Bukan gak cukup tapi kita harus
memasarkan diri kita untuk mencari ilmu lebih dalam lagi dengan bertanya kepada
para masyayikh gitu. Baik di dalam ataupun di luar kelas. Dan itu aksesnya
sangat-sangat gampang.”
“Alhamdulillahnya
para masyayikh di sini sangat terbuka untuk tanya jawab dan diskusi. Dan mereka
juga sangat terbuka dengan pola pikir yang berbeda gitu. Dengan paham-paham
yang berbeda. Dan insya Allah akan lebih toleran dengan satu sama lain,” ujar
Haikal.
Suasana kelas di Al-Azhar Mesir
Nomor Sembilan hingga sebelas
akan berfokus pada kehidupan sosial dan budaya.
9. Bagaimana cara Anda menjalin pertemanan dengan mahasiswa
lokal maupun internasional?
Fakhri (Jordan)
“Anggap aja
baru masuk pesantren, ngobrol sih lok kalau bisa. Kalau internasional ya, itu
gua masih ngandelin basket gua. Nah gitu sih. Terus juga kemarin baru dapet gua
buku dari Zufar, gua pinjem itu. How to Win Friends and Influence People,
karyanya Dale Carnegie. Itu ngaruh banget. Bagi gue itu ngaruh banget. Soalnya
itu cerita tentang relasi lah, bagaimana menjalin hubungan, entah sama teman,
kerabat, apapun itu,” ujar Fakhri.
![]() |
perpustakaan University of Jordan |
10. Apakah Anda pernah mengalami diskriminasi atau perlakuan berbeda sebagai mahasiswa asing?
Fakhri (Jordan)
“Nomor
sembilan diskriminasi atau perbedaan perlakuan mungkin pasti ya. Gara-gara kan
kita orang asing, kayak beda lah, dari bahasa beda, culture beda. Ya pasti,
tapi gak banget lah, kayak diskriminasi, kayak diceng-cengin kayaknya sih.”
“Kalau gua
sendiri sih enggak ya. Lebih ke ini sih, kalau kita mau belajar hal baru,
contoh gua mau belajar bahasa Inggris kemarin tuh, itu sama orang-orang
disupport. Ayo, ayo bisa-bisa, walaupun kitanya sendiri masih aa-aa itu bisa
gitu. Di bahasanya disupport lah gitu sama orang-orang sana. Lebih respect lah
gitu,” ujar Fakhri.
Ruang seminar fakultas ekonomi University of Jordan
11. Apakah Anda aktif di kegiatan kampus atau komunitas pelajar
Indonesia di sana?
Fakhri (Jordan)
“Alhamdulillah
gua gabung di HPMI, baru kemarin daftar alhamdulillah keterima HPMI, Himpunan Mahasiswa
Indonesia. Kemudian tim basket lah, tim basket Indo itu masuk. Habis itu
kegiatan kampusnya sih paling itu kayak kegiatan American Corner, itu wadah
buat yang bisa bahasa Inggris atau yang mau bisa bahasa Inggris kesitu. Nah gua
termasuk yang mau bisa, jadi masih belajar. Teman-teman gua udah pada ini, yang
orang-orang kampus, orang-orang Arab itu udah pada lancar Bahasa Inggrisnya,
nah kitanya aja yang masih belum. Jadi itu sih kegiatan yang gua ikuti,” ujar
Fakhri.
Suasana sekitar kampus Universty of Jordan
Nomor duabelas sampai limabelas berfokus
pada kehidupan sehari-hari dan finansial.
12. Bagaimana Anda mengatur keuangan selama kuliah? Apakah Anda
mendapat beasiswa, bekerja paruh waktu, atau dibiayai keluarga?
Najib (Yaman)
“Kalau aku
ngatur keuangannya masuk kuliah sih. Soalnya kalau enggak bakal boros. Sama ini
sih, lebih banyak masak daripada jajan. Terus kalau hidup di sini mahal,” ujar
Najib.
13. Bagaimana dengan biaya hidup di kota Anda tinggal? Apakah ada
tips untuk hidup hemat di sana?
Najib (Yaman)
“Ya tadi sama
kayak tadi, kalau tips hidup hemat di sini ya cuma lebih banyak masaknya
daripada jajan,” ujar Najib.
14. Apa tantangan sehari-hari yang paling sering Anda hadapi di
luar kegiatan akademik?
Najib (Yaman)
“Yang paling
sering tantangan yang paling sering dihadapi ya cuma listrik sih. Di luar
akademi mah listrik, air. Gak ada listrik, gak ada air,” ujar Najib.
15. Apakah Anda memiliki rencana setelah lulus – ingin kembali ke
Indonesia atau melanjutkan karier di luar negeri?
Najib (Yaman)
“Ya habis
lulus balik Indo, gak balik ke sini lagi. Ngapain? Gak ada listrik kok,” ujar
Najib.
![]() |
Najib (University of Science & Technology) |
![]() |
Haikal (Al-Azhar Mesir) |
![]() |
Fakhri (University of Jordan) |
Komentar
Posting Komentar