Masih dini hari ketika saya mulai memanaskan motor di halaman kos. Jam belum menunjukkan pukul empat pagi. Udara Solo terasa lebih dingin dari biasanya, dan jalanan masih nyaris kosong. Dengan jaket tebal dan ransel kecil di punggung, saya dan teman saya bersiap menjemput teman di Kartasura sebelum melanjutkan perjalanan menuju Bukit Cilenguk di Selo, Boyolali, tempat yang kami rencanakan secara mendadak untuk dikunjungi.
Perjalanan ke Kartasura memakan waktu sekitar 30 menit. Udara subuh terasa menusuk kulit, dan hanya beberapa kendaraan saja yang lalu lalang. Sesampainya di wisma teman, kami sempat salat Subuh terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan. Suasana masih tenang, hanya suara motor kami yang memecah keheningan pagi itu.
Dari Kartasura, kami menyusuri jalan ke arah barat. Seiring waktu, langit perlahan menunjukkan cahayanya. Kami melaju melewati jalanan berkelok yang mulai menanjak, dikelilingi pepohonan dan ladang-ladang petani yang siap panen. Angin dingin pegunungan menusuk wajah, namun semangat kami tetap membara. Sekali kami berhenti sejenak untuk meregangkan badan dan mengabadikan gunung Merapi beserta bulan yang masih ingin menampakkan dirinya dengan ponsel kami, serta menikmati suasana pagi yang khas dari dataran tinggi Boyolali.
Menjelang pukul enam pagi, kami tiba di area parkir dekat Bukit Cilenguk. Motor kami parkirkan di dekat warung kecil. Jalur menuju bukit cukup menanjak, namun tak terlalu melelahkan untuk sebuah motor. Embun masih menempel di daun-daun pepohonan, dan tanah sedikit lembap sisa hujan semalam.
Saat mencapai tujuan, pemandangan Gunung Merapi langsung menyambut kami. Berdiri gagah, jelas tanpa tertutup kabut atau awan. Sinar matahari pagi mulai menyinari lereng-lerengnya, menciptakan bayangan lembut di permukaan gunung. Kami duduk melingkar, membiarkan pandangan tertuju pada Merapi yang terbentang luas. Suara angin dan dingin menjadi latar alami yang sempurna.
Saya mengeluarkan cemilan dan termos kecil berisi air dingin dari tas, sedangkan teman saya membawa kompor portable serta kopinya untuk dimasak langsung dan membaginya dengan teman saya. Minum kopi di ketinggian seperti ini terasa berbeda dan lebih hangat, lebih berasa, lebih nikmat. Kami sempat mengambil momen bersama, tapi tidak terlalu banyak. Momen seperti ini lebih baik disimpan di ingatan kepala kami masing-masing.
Ketika matahari mulai naik, kami membuka makanan ringan yang kami bawa dari tempat masing-masing. Makan makanan ringan bersama di puncak bukit terasa seperti hadiah sederhana dari alam. Obrolan kami pun sudah kemana-mana, membicarakan hal-hal ringan, kadang diselingi tawa. Namun di tengah kesederhanaan itu, saya merasa tenang. Ada sesuatu dari suasana pagi di bukit ini yang memberi rasa untuk berpikir jernih.
Melihat Merapi dari dekat membuat saya merenung. Betapa kecilnya manusia di hadapan alam, dan betapa mudah kita melupakan untuk bersyukur atas hal-hal yang tampak sepele: udara segar, teman perjalanan, jalan yang sunyi, dan pemandangan yang tidak bisa dibeli.
Waktu terasa cepat berlalu. Kami akhirnya harus turun kembali. Matahari sudah cukup tinggi dan panas mulai terasa di kulit. Dalam perjalanan pulang dengan motor, kami tak banyak bicara. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya, mungkin memutar kembali potongan-potongan momen pagi tadi yang sulit dilupakan.
Perjalanan menuju Bukit Cilenguk ini bukan sekadar perjalanan fisik, tapi juga jeda yang kami butuhkan dari rutinitas. Perjalanan ini mengingatkan kami bahwa keindahan bisa ditemukan tak jauh dari tempat kita berada, selama kita mau bangun lebih pagi dan berjalan lebih jauh. Dan pagi itu, Merapi menjadi saksi dari pertemuan kecil kami dengan alam yang begitu sederhana, tapi bermakna.
Komentar
Posting Komentar